Wanita Pilihan dan Kakak Idaman
Fathiya Aulia_XII MIPA 4_Lomba BlogAku seorang kakak, sulung dengan satu adik yang luar biasa lucunya. Jarak usiaku dengan adikku lumayan jauh, tujuh tahun. Perbedaan usia yang terpaut jauh ini kadang atau malah sering membuat atmosfer kami berbeda. Adikku, Jasmine namanya, lucu, periang, dan manja, sedangkan aku yang dididik sebagai Si Sulung cenderung pendiam, serius, dan tidak terlalu suka hal-hal yang berbau melow. Tapi, Gaes, sungguh aku masih seorang gadis yang hatinya mudah tersentuh.
Aku tumbuh dari keluarga dengan orang tua pekerja. Ayah dan ibuku bekerja keras tentu saja untuk masa depan kami. Ayah seorang wiraswasta dan ibuku seorang guru sebuah Sekolah Menengah Kejuruan negeri di sebuah kota kecil di ujung timur Jawa Timur, yakni kota Bondowoso. Jarak tempuh sekolah ibuku mengajar dengan rumah kami sangatlah jauh. Tigapuluh delapan kilometer ibuku tempuh setiap harinya. Ibuku sungguh wanita luar biasa, meski lelah kami tak pernah merasa kehilangan kehangatannya. Kadang aku dan ibu seperti layaknya seorang teman dan sahabat.
Layaknya seorang Sulung yang ingin terlihat tegar, aku memantapkan diri untuk memilih sebuah sekolah di luar kota, bahkan di luar propinsi tempatku tinggal, Magelang, provinsi Jawa Tengah. Belajar mandiri, belajar mengenal budaya daerah di luar daerahku, belajar tegar, dan belajar dewasa. Aku tumbuh di SMAIT Ihsanul Fikri, Magelang. Berteman, bersahabat, bahkan bersaudara dengan teman-teman dari seluruh Indonesia adalah pengalaman luar biasa yang tiada tara. Aku berusaha untuk menikmati dan mulai merasa betah sampai akhirnya kami harus kembali pulang ke daerah asal kami karena pandemi covid19 melanda seluruh negeri. Bukan hanya pandemi nasional, tapi sudah menjadi pandemi global.
Jember aku datang, ada rasa senang juga, karena rasa homesick ku akhirnya terobati. Kami belajar di rumah dengan jangka waktu yang tidak bisa dipastikan. Kadang aku merasa jenuh luar biasa. Kebijakan pemerintah daerah di sekolahku dan sekolah ibuku tidak sama. Meski pandemi, sekolah ibuku tetap mengadakan tatap muka terbatas. Sedangkan sekolah adikku di Jember belajar secara daring, begitu pula denganku.
Aku bisa melihat wajah lelah ibuku saat beliau harus membagi waktu antara memanajemen pembelajaran daring dan luring di sekolahnya, memanajemen waktu untuk kami sekeluarga.
Saat pagi tiba, ibu mulai terlihat sangat lelah, karena harus mempersiapkan kebutuhan kami di rumah dan pembelajaran setengah luring dan setengah daring di sekolah tempat ibu mengajar.Mempersiapkan kebutuhan pembelajaran daring adik kecilku juga.
Aku tidak tega, akhirnya aku menawarkan diri untuk merawat adik selama ibu berdinas.
"Adik biar aku aja yang ngurus, Bu. Ibu fokus saja ke sekolah. Ibu terlihat lelah setiap harinya."
Ibu sangat bersyukur dan berterima kasih dengan bantuan yang aku tawarkan. Tentu saja ini bukan hal yang mudah bagiku. Aku harus membagi waktu dan pikiran untuk tugasku sendiri dan tugas-tugas adikku. Belum lagi ketika adikku ngambek dan rewel. Subhanallah, sungguh luar biasa melelahkan.
Ternyata menjadi seorang kakak yang baik tidaklah mudah, apalagi kakak idaman. Ketika aku mulai tegas dan disiplin adikku selalu ngambek dan berkomentar, "Kakak galak seperti Kak Rose, Kakaknya Upin dan Ipin."
Astaghfirullah, sungguh kesabaranku sangat diuji. Tak jarang aku sharing dan curhat ke ibu atau ayah tentang sikapku sebagai seorang kakak. Ibu selalu mengingatkan aku tentang seorang wanita pilihan langit, Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS. Cerita yang dulu sering ibu kisahkan menjelang tidur.
Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, yang luar biasa kesabaran, keikhlasan, dan ketaatannya pada suami dan penciptanya, Allah SWT. Ibunda yang membesarkan putranya tidak selalu merasakan kehadiran suaminya. Sosok wanita yang taat, ikhlas, dan patuh. Sosok wanita yang tegar, tabah, dan qanaah. Seorang wanita pilihan langit.
"Kalau Siti Hajar wanita pilihan langit, Insyaaallah Kakak akan bisa menjadi seorang kakak idaman bagi adik. Syaratnya harus sabar dan ikhlas. Dua hal itulah yang membuat kita insyaaAllah bisa menjadi wanita-wanita yang hebat dan luar biasa."
Kupeluk Ibuku dengan air mata menggenang. Ibuku bukan Siti Hajar, beliau tidak sehebat Ibunda Nabi Ismail AS itu. Tapi dari ibu aku belajar banyak, termasuk menjadi seorang kakak yang baik dan idaman bagi adikku sendiri. Jika Ibunda Siti Hajar wanita pilihan langit, maka aku akan berusaha menjadi kakak idaman Jasmine, adikku yang lucu dan menggemaskan.

Komentar
Posting Komentar